Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Saturday, March 12, 2016

SYUKURAN 1000 HARI


Pada Jumat 4 Maret 2016 Domus Pacis mengalami pagi gelap karena hujan yang terus mengucur dalam naungan langit yang remang-remang ungu kehitam-hitaman. Tetapi cuaca menjadi berlawanan lebih-lebih pada jam 09.00 ke atas. Ketika jarum jam menunjuk angka sekitar 11.30 Bu Joko dari Gancahan, Paroki Gamping, dan Bu Rini dari Sleman sibuk merangkai bunga untuk membuat asri dua meja panjang yang ditata di Ruang Barnabas, ruang serbaguna Domus. Bu Titik dari Puren sibuk menyiapkan perlengkapan misa. Sementara itu kursi-kursi sebanyak 250 buah sudah rapi berderet-deret. Pada jam 13.00 Pak Loly dari Nologaten bersama satu orang pembantunya sibuk menyiapkan soundsystem. Sebuah mobil datang pada jam 15.30 membawa para petugas catering yang langsung dipimpin oleh Bu Iskak dengan segala menu yang disediakan untuk acara yang akan dimulai jam 17.00. Pada jam ini kursi-kursi sudah diduduki oleh para tamu. Suasana memang tampak semarak. Hal ini terjadi karena kerja kelompok relawan yang menjadi semacam panitia kecil. Mereka adalah: Pak Slamet dan Bu Dhani (Lingkungan Ambarrukmo, Paroki Baciro), Bapak-Ibu Bambang Ananto (Lingkungan Sapen, Paroki Baciro), Bu Titik dan Bu Tatik (Lingkungan Ambarrukmo, Paroki Pringwulung), Pak Loly dan Pak Joko (Lingkungan Nologaten, Paroki Pringwulung), Bapak-Ibu Handoko (Lingkungan Puren, Paroki Pringwulung), Bu Rini (Lingkungan Sleman Timur, Paroki Medari). Mereka membantu penyelenggaraan Misa Peringatan 1000 hari wafat Ibu Maria Sumarsiyah Tjokropranoto, ibu dari Rm. Bambang.

Persis pada jam 17.00 Rm. Agoeng tampil sebagai pengacara sekaligus menjadi wakil keluarga. Beliau mengucapkan selamat datang dengan menyapa kelompok-kelompok tamu: 1) Keluarga Rm. Bambang; 2) Umat Lingkungan-lingkungan Ambarrukmo Paroki Baciro, Ambarrukmo Paroki Pringwulung, Nologaten Paroki Pringwulung, Puren Paroki Pringwulung; 3) Kasepuhan Murangan dan Sleman Paroki Medari; 4) Karyawan kantor Museum Misi Muntilan dan keluarganya. Di sini Rm. Agoeng juga menyapa Kor "The Blero Choir" yang dipimpin oleh Pak Loly. Misa dipimpin oleh 3 orang imam: Rm. Bonifacius sebagai selebran utama didampingi oleh Rm. Yadi dan Rm. Bambang. Bu Dhani bertugas sebagai lektor. Dalam bagian homili setiap imam menyampaikan sharing. Rm. Yadi sesudah membacakan Injil Mrk. 12:28b-34, bacaan hari itu, menyampaikan sharing tentang Rm. Bambang yang menghayati kasih seperti baru dibacakan dalam Injil. Semangat penuh getar ke sana ke mari melayani umat baik di luar Domus maupun yang datang di Domus ditangkap oleh Rm. Yadi datang dari kegetiran gagal cinta dalam keluarga. Rm. Bambang memang tidak mengalami keluarga harmonis dan melihat ibunya baru pada usia 17 tahun. Sharing Rm. Yadi sungguh bersemangat penuh kata-kata yang membuat peserta misa tertawa terbahak-bahak. Kemudian Rm. Boni, pastor di Paroki Pringwulung, menambahkan komentar bahwa semua yang terjadi pada Rm. Bambang adalah proses yang terjadi karena kedekatan dengan Kerajaan Allah.

Rm. Bambang yang berbicara dalam giliran terakhir menghadirkan sharing yang menggambarkan mengapa kini memiliki hidup sebagai dikatakan oleh Rm. Yadi dan Rm. Boni. Kehadiran anggota keluarga mengingatkannya akan suasana kesendirian akibat tidak mengalami budaya ibu yang harus terjadi hingga usia 2 tahun dan budaya ayah-ibu hingga usia 5 tahun. Dia lahir ketika ibu dan bapaknya sudah bercerai. Hidup remajanya dialami dalam suasana broken home. Tetapi semua ini berubah sesudah Rm. Bambang menghayati kekatolikan dalam topangan umat Kring Ambarrukmo terutama umat yang kini digambarkan dengan hadirnya umat Ambarrukmo (baik dari Paroki Baciro maupun dari Paroki Pringwulung) hingga masuk seminari dan ditahbiskan. Dengan umat Ambarrukmo dia mendapatkan semacam sanak saudara dan keluarga-keluarga tertentu sebagai oase jiwani. Tetapi jiwa gersang yang menghadirkan kegarangan sehingga terkenal galak tetap muncul hingga 7an tahun imamat. Di sini Rm. Bambang merasakan mendapatkan bimbingan dan pelatihan dalam tugasnya dalam bidang Karya Misioner selama 27 tahun hingga menjadi Museum Misi Muntilan. Pak Muji dan teman-teman tim kerja misioner sungguh dihayati sebagai sosok-sosok yang mendidik Rm. Bambang mampu mendengarkan orang lain dan makin berkepedulian. Maka peristiwa peringatan 1000 hari menjadi ajakan menyukuri kasih ilahi yang dengan perantaraan jemaat dapat mengubah hati gersang kering kasih menjadi tanah basah dengan pupuk alami karena dekat dengan Kerajaan Allah.

0 comments:

Post a Comment