Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, July 1, 2016

Sabda Hidup



Sabtu, 02 Juli 2016
Hari biasa
warna liturgi Hijau 
Bacaan
Am. 9:11-15; Mzm. 85:9,11-12,13-14; Mat. 9:14-17. BcO Yes. 59:1-14

Matius 9:14-17:
14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" 15 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. 16 Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. 17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."

Renungan:
Membaca bacaan ini spontan aku teringat nenekku. Sampai usia senja, beliau masih bisa menjahit. Biasanya dia menjahit kain-kain perca. Kain-kain perca itu dirangkai menjadi selimut maupun penutup teko. Ia sangat tekun dan teliti menghubungkan satu perca dengan perca yang lain. Kain-kain perca yang bermiripan dan memiliki kualitas yang sama ia sambung. "Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya" (Mat 9:16).
Kalau kita amati perjalanan hidup kita rasanya bagaikan kepingan-kepingan perca yang dirangkai menjadi satu kesatuan sejarah hidup yang utuh. Hari-hari kita terangkai menjadi bulan, tahun dan membentuk jati diri kita sekarang ini. Semakin teliti pilihan kita semakin indah pula hasilnya.
Maka marilah kita sungguh-sungguh teliti dalam merangkai hidup kita. Kita tata dengan baik semua yang selaras menjadi sebuah jatidiri yang mempesona. Selama bersama Sang Mempelai kita pun mempunyai kesempatan bersukacita menata hidup kita.

Kontemplasi:
Pejamkan matamu sejenak. Bayangkan perca-perca harianmu yang kautata menjadi satu kesatuan utuh pribadimu sekarang.

Refleksi:
Di mana letak kesulitan dalam menata hidupmu sendiri?

Doa:
Ya Tuhan Engkau merangkaiku menjadi pribadi yang berarti. Semoga aku pun terbuka pada karyaMu dalam hidupku.  Amin.

Perutusan:
Aku akan bekerjasama dengan Tuhan merangkai hidupku. -nasp-

0 comments:

Post a Comment