Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, November 9, 2015

Sabda Hidup


Senin, 09 November 2015
Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran
warna liturgi Putih 
Bacaan
Yeh. 47:1-2,8-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; 1Kor. 3:9b-11,16-17; Yoh. 2:13-22. BcO 1Ptr. 2:1-17 atau Why. 21:9-27

Yohanes 2:13-22:  
13 Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. 14 Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. 15 Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. 16 Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." 17 Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." 18 Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" 19 Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." 20 Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" 21 Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. 22 Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

Renungan:
Pada hari-hari tententu dalam pesta adat atau agama biasanya harga-harga barang melambung tinggi. Barang-barang itu bisa berupa kebutuhan pokok, binatang sampai bunga. Di bulan nyadran misalnya. Pada masa itu harga bunga mawar tabur bisa naik setinggi langit. Di hari Natal, harga kebutuhan pokok pun naik. Di hari qurban harga kambing dan sapi melambung.
Orang-orang jaman Yesus pun mengalami hal serupa. Mereka yang membeli barang dekat Bait Allah akan mendapati harga yang luar biasa. Para pedagang sengaja mengambil untung dari mereka yang butuh.
Situasi itu dari tahun ke tahun akan sama saja. Berulang dan berulang. Kiranya kondisi seperti itu baik untuk menjadi bahan refleksi kita agar tidak mengalami hal yang sama. Mungkin kita tidak mampu seperti Yesus membongkar para pedagang. Namun kita bisa melakukan tindakan-tindakan antisipatif untuk menekan permainan dagang tersebut.

Kontemplasi:
Duduklah dengan tenang. Bayangkan natal segera datang. Pilihlah apa yang perlu kaulakukan agar tidak terjerat oleh harga permainan dagang.

Refleksi:
Tindakan antisipatif apa yang bisa kaulakukan untuk menahan kenaikan harga pada musim-musim tertentu?

Doa:
Tuhan, semoga orang-orang tidak tergoda mengambil untung di tengah kesengsaraan yang lain. Amin.

Perutusan:
Aku akan memperhitungkan dengan baik kebutuhan dan masa yang kulalui.-nasp-

0 comments:

Post a Comment