Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Thursday, September 10, 2015

Sabda Hidup



Jumat, 11 September 2015
St. Yohanes Gabriel Perboyre
warna liturgi Hijau 
Bacaan
1Tim. 1:1-2,12-14; Mzm. 16:1,2a,5,7-8,11; Luk. 6:39-42. BcO Hos. 4:1-10; 5:1-7

Lukas 6:39-42:
39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? 40 Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. 41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? 42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Renungan:
Sering kali dalam bersahabat kita memilih orang yang mempunyai kesamaan pikiran dan perasaan. Dengan mereka kita merasa klop. Bermain, berkata dan bertindak pun bisa selaras. Namun kalau tidak waspada kita bisa jatuh dalam kesalahan hidup yang mendalam. Banyak orang jatuh dalam persekongkolan persahabatan korupsi. Satu orang ketangkap, maka orang lain pun akan terseret.
Si buta kalau menuntun yang buta bisa jatuh dalam suatu lobang (bdk. Luk 6:39). Si buta membutuhkan orang melek. Perbedaan ini menjadi penting. Yang buta mempunyai kepekaan rasa, si melek mampu melihat dengan jernih. Maka ketika mereka berjalan mereka bisa menghindari lobang yang bisa membuatnya jatuh terperosok.
Maka kadang kita pun perlu membangun persahabatan dengan mereka yang berbeda. Bahkan dengan mereka yang berani menegur kita dengan tegas. Dari sini kita bisa menghindarkan diri dari lobang yang membuat kita terperosok.

Kontemplasi:
Duduklah dengan tenang. Hadirkan seorang temanmu yang sering memberikan masukan kepadamu.

Refleksi:
Bagaimana bisa bersahabat dengan yang berbeda?

Doa:
Tuhan, semoga aku mampu bergaul dengan mereka yang berbeda bahkan juga yang seringkali tampak bertolak belakang denganku. Amin.

Perutusan:
Aku akan bersahabat dengan saudaraku yang sering memberikan masukan dan kritikan kepadaku. -nasp-

0 comments:

Post a Comment