Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Wednesday, September 16, 2015

Sabda Hidup



Kamis, 17 September 2015
St. Robertus Bellarmino, St. Albertus dr Yerusalem, St. Martinus dr Finojosa, St. Hildegardis
warna liturgi Hijau 
Bacaan
1Tim. 4:12-16; Mzm. 111:7-8,9,10; Luk. 7:36-50. BcO Hos. 13:1-16

Lukas 7:36-50:
36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." 40 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru." 41 "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. 42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" 43 Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." 44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. 45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." 48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." 49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" 50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

Renungan:
Karena rasa syukurnya perempuan berdosa mempersembahkan yang terbaik bagi Yesus. Ia sujud di kakiNya. Mengusap kakinya dengan air mata, minyak dan rambutNya. Persembahan seperti itu tidak pernah diberikan oleh orang lain. Hanya dia yang merasa mendapat rahmat pengampunan yang melakukan itu.
Memang benar bahwa mereka yang merasakan rahmatNya akan mempersembahkan syukur. Semakin besar rahmat yang diterima semakin besar pula rasa syukurnya. Perempuan berdosa itu adalah pribadi yang tidak bisa diterima oleh masyarakat. Namun Yesus menerima dia bahkan membiarkan dirinya mendekat kepadaNya. Maka layaklah ia merasa sangat bersyukur atas penerimaan tersebut.
Syukur juga menjadi bagian dari hidup kita. Setiap hari kita mengalami rahmatNya, setiap hari pula kita mengungkapkan syukur kita. Pada saat tertentu rahmat itu terasa besar maka layaklah pula kalau kita juga mempersembahkan syukur yang lebih besar kepadaNya.

Kontemplasi:
Bayangkan kisah dalam Injil Luk. 7:36-50.

Refleksi:
Sudahkah anda mensyukuri hidupmu?

Doa:
Tuhan, semoga aku makin mampu bersyukur atas segala rahmat yang Kauanugerahkan setiap waktu. Amin.

Perutusan:
Aku mempersembahkan syukurku. -nasp-

0 comments:

Post a Comment