Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, February 22, 2016

Sabda Hidup


Selasa, 23 Februari 2016
Polikarpus
warna liturgi Ungu 
Bacaan
Yes. 1:10,16-20; Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23; Mat. 23:1-12. BcO Kel. 16:1-18,35

Matius 23:1-12:
1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan:
Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan seorang pastor di Seminari di Pematang Siantar. Di percakapan dia bercerita bagaimana malam sebelumnya dia memperbaiki saluran air yang rusak sampai jam 3 pagi. Ketika kutanya mengapa itu dia lakukan, ia menjawab bahwa itu kewajiban moral baginya. Sekalipun saluran itu tidak mengarah ke kamar mandinya namun ia tetap merasa bertanggungjawab.
Kisah di atas tentu berbeda dengan sikap para Farisi. "Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya" (Mat 23:4). Beban-beban aturan mereka buat namun mereka sering melepaskan diri dari aturan tersebut.
Kiranya pastor tadi menjadi pengemban amanat Kristus. Sekalipun ia seorang dosen, ia tetap terlibat dalam aneka persoalan fraternya. Ia ikut begadang memperbaiki saluran air bersama para fraternya. Ia bukan dosen yang hanya memberikan beban kepada mahasiswa atau pegawai, tapi ia ikut terlibat dalam suka duka mereka.

Kontemplasi:
Duduklah dengan tenang. Pejamkan matamu. Bayangkan anak buahmu mengalami kesulitan. Apa yang kauperbuat sebagai pimpinan dan murid Kristus.

Refleksi:
Tulislah pengalamanmu terlibat dalam suka duka komunitasmu, bukan hanya meletakkan beban kepada mereka.

Doa:
Bapa, semoga aku pun mampu terlibat dalam suka duka komunitasku, bukan menjadi beban bagi mereka. Amin.

Perutusan:
Aku akan terlibat dalam suka duka keluarga dan komunitasku. -nasp-

0 comments:

Post a Comment