Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Monday, January 9, 2017

Rahmat Air Meluap?


Dari berita-berita, yang oleh Rm. Bambang diketahui di keesokharinya, ternyata Yogya memang dilanda hujan lebat disertai angin besar bahkan ada yang angin beliung pada sore Kamis 5 Janari 2017. Kata Rm. Agoeng di daerah Kabupaten Sleman ada 28 titik bahaya dan ini adalah yang terbanyak di keseluruhan Daerah Istimewa Yogyakarta. Padahal Domus Pacis berada di wilayah Kabupaten Sleman, yaitu di Kecamatan Depok, Desa Condong Catur, Dusun Puren, Gang Lada no. 5. Ketika masuk sekitar jam 15.00, langit memang tampak menggelap dan Domus termasuk berada di bawahnya. Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Bagi Rm. Bambang hujan lebat tentu membuat suasana makin sejuk sehingga dia dapat bekerja di laptopnya dengan nyaman. Tetapi sebentar kemudian terdengar suara ribut terjadi di luar kamarnya. Suara pukulan berdentam-dentam membuat Rm. Bambang sadar bahwa tembok bangunan kapel yang sedang dikerjakan pasti dibuat lobang-lobang. "Banyune gedhe meneh pa ya?" (Apakah ada air besar lagi ya?) tanyanya dalam hati.

Ternyata Pak Tukiran, Bu Rini, Mas Abas dan Mbak Tari menjadi amat sibuk dengan alat-alat untuk mengurus air yang meluap sampai teras dalam bangunan induk Domus Pacis. Rm. Bambang dalam pikir tahu bahwa air yang mengalir dengan deras di bangunan tak dapat meresap karena lantainya sudah disemen sementara belum ada atap yang menaungi. Kemudian Bu Rini masuk kamar Rm. Bambang memindahkan dos-dos yang ada dilantai diletakkan di tempat yang tak tersentuh lantai. Kabel-kabel pun dipindahkan. Dia mengambil alat pel dan mulai menggiring air agar keluar kamar. Rm. Bambang pun, yang kembali akan mengetik, merasakan air mengalir di telapak kakinya yang berada di bawah meja kerjanya. Ketika keluar dari kamarnya, dia melihat Pak Tukiran dan Mbak Tri bekerja mengurus air di teras, Mas Abas berada di kamar Rm. Harto, Mbak Tari di kamar Rm. Tri Hartono. Para tenaga kerja bangunan mengarahkan air di lantai masuk ke lobang-lobang yang sudah dibuat. Rm. Bambang kemudian juga baru tahu bahwa airpun sudah mengalir di bawah tempat tidurnya. Tetapi semua usaha ribut itu sungguh amat berhasil. Ketika hujan reda sekitar jam 17.40, Rm. Bambang melihat lantai kamarnya jadi putih bersih. "Banyu mbludag malah dadi rahmat nyekrop jubin" (Air meluap malah jadi anugerah untuk bersih lantai besar-besaran) katanya dalam hati sambil tersenyum.

0 comments:

Post a Comment