Pages

Subscribe:
/
  • Domus Pacis

    Domus Pacis atau Rumah Damai berada di Puren, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Di rumah ini sedang dikembangkan pastoral ketuaan. "Tua tak mungkin terlambat datangnya, namun renta bisa ditunda hadirnya"

  • Indahnya di usia tua

    Tua namun tak renta, sakit tak sengsara, Mati masuk surga

  • Tua Yang Bijaksana

    Menjadi Tua itu kepastian, namun tua yang bijaksana itu suatu perjuangan.

Friday, January 20, 2017

Ulasan Eksegetis Injil & Bacaan Pertama Minggu Biasa III/A, 22 Januari 2017 (Mat 4:12-23 – Yes 8:23a-9:3)

diambil dari http://www.mirifica.net by on Jendela Alkitab, Mingguan


TERANG TELAH TERBIT!

Rekan-rekan,

DALAM Mat 4:12-23 yang dibacakan pada Minggu Biasa III tahun A ini dikisahkan dua tindakan Yesus sebelum mulai melayani orang-orang sezamannya: mengenali lapangan dan mengajak beberapa orang menjadi rekan sekerja. Tentunya ia sudah mulai dikenal di Yudea, terutama wilayah seputar Yerusalem. Ketika keadaan politik di situ kurang menguntungkan, ia menyingkir ke wilayah Galilea di utara dan tinggal beberapa waktu di kota tempat ia dibesarkan, Nazaret. Tetapi ia kemudian pindah ke Kapernaum di tepi danau (ay. 12-14). Di situlah ia mulai mewartakan kedatangan Kerajaan Surga (ay. 15). Ia juga memilih murid-murid pertama, yakni Simon Petrus dan saudaranya, Andreas, dan kemudian juga Yakobus dan Yohanes, kedua anak Zebedeus (ay. 18-22).

Akan sekadar diuraikan bagaimana dalam petikan ini Matius membaca kembali tampilnya Yesus dengan menerapkan nubuat dalam Yes 8:23a-9:a yang dipakai sebagai bacaan pertama kali ini.

LAPANGAN

Membaca ringkasan Matius mengenai awal karya Yesus itu kita boleh bertanya, tokoh macam apakah dia itu? Tak berlebihan bila kita memandangnya sebagai seorang yang pandai memahami keadaan dan dapat bertindak dengan cara yang cocok. Bayangkan, ia mempunyai peluang besar di Yerusalem dan sekitarnya. Orang-orang di daerah itu haus akan kerohanian baru dan mendambakan ketenteraman batin. Kita ingat banyak orang pergi ke padang gurun menemui Yohanes Pembaptis dan minta dibaptis olehnya. Arus kebangunan rohani ini membuat Herodes waswas. Bisa-bisa penguasa Roma menganggap ada gerakan religius yang mau berontak. Maka Herodes pun mengamankan Yohanes Pembaptis yang juga pernah mengkritik kelakuan moral Herodes terang-terangan. (Lihat Mat 11:2-11 yang pernah diulas bagi Minggu Adven III A.) Bila Yesus tetap tinggal di Yerusalem atau di daerah Yudea, ia tentu akan mendapat kesulitan yang sama. Karena itu ia menyingkir ke utara (Mat 4:12). Dalam Injil Matius, gagasan “menyingkir” memiliki arti menjauhi bahaya dengan bijaksana, seperti diceritakan tentang Yusuf (2:14 dan 22). Juga nanti Yesus disebut menyingkiri tempat-tempat yang menolaknya (12:15; 14:13; 15:21). Kadang-kadang memang lebih baik menghadapi kekuatan yang memusuhi dengan perhitungan bijaksana dan akal sehat daripada dengan keberanian belaka.

KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI  DI UTARA

Wilayah utara sejak zaman dulu berbeda dengan Yudea, baik alamnya maupun budayanya. Tanahnya lebih subur. Perekonomian lebih maju. Orang-orangnya lebih berani berpikir merdeka. Sering mereka dicurigai sebagai kurang taat beragama oleh kaum elit di Yerusalem, yakni para ahli Taurat, imam-imam, kaum Farisi. Memang di wilayah utara juga ada cukup banyak orang yang asalnya dari Yudea. Mereka pindah – transmigrasi – ke utara untuk menemukan nafkah yang lebih baik dan mencari peluang lebih luas. Keluarga Yesus kiranya juga dari Yudea. Karena itulah Yusuf dan Maria datang ke sana dari Nazaret di Galilea untuk menyensuskan diri seperti diceritakan Lukas (Luk 2:1-5).

Macam-macam prasangka, lebih-lebih di bidang hidup keagamaan, lebih terasa di Yerusalem dan Yudea pada umumnya. Orang di utara sudah biasa berhubungan dengan budaya lain. Di wilayah yang memiliki tradisi berpikir lebih luas itulah Yesus mulai mewartakan hal-hal baru. Ia didengarkan. Lihat misalnya kekaguman orang di Kapernaum mendengarkan uraiannya yang segar mengenai Taurat (Mrk 1:21-22 dan Luk 4:31-32). Mereka membicarakan yang dikatakannya. Jadi mereka tidak pasif melulu dan kemudian melupakannya. Bukannya mereka selalu setuju. Malah di Nazaret ia pernah ditolak (Mrk 6:1-6a Mat 13:53-58 Luk 4:16-30). Bagaimanapun juga, ia jadi berita. Dan orang mau tahu. Ia tidak dianggap sepi.

Di wilayah utara sudah beberapa puluh tahun sebelumnya berkembang satu sektor perekonomian dan bisnis baru, yakni pengelolaan ikan dari danau. Pasar-pasar ikan bertumbuhan di tepian danau sampai menjadi wilayah hunian dan kota yang ramai. Kapernaum ialah salah satu dari kota-kota itu. Begitu juga Magdala, Betsaida, dan wilayah Genesaret di tepian danau Tiberias. Nanti Yesus mondar-mandir di antara kota-kota itu ikut perahu nelayan. Dalam ukuran zaman itu, para nelayan ialah orang-orang yang maju dalam bisnis. Salah satu usahawan seperti itu ialah Zebedeus, ayah Yakobus dan Yohanes. Juga Simon Petrus dan Andreas adalah pebisnis ikan yang mapan. Memang kebanyakan masih dilakukan sendiri, dari menjala, menyortir, kemudian meleveransir ke pasar. Orang-orang itu lincah berusaha. Mereka inilah yang dijumpai Yesus. Mereka ini kemudian juga menjadi pengikutnya. Yesus melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ia tidak menunggu orang datang kepadanya. Ia mendatangi para nelayan itu, menyertai mereka. Begitulah ia makin didengarkan orang.

MATIUS DAN BACAAN PERTAMA (Yes 8:23a-9:3)

Dikatakan dalam Mat 4:13-15 bahwa Yesus meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali. Uraian di atas sekedar menjelaskan mengapa ia ke sana. Matius sendiri menambahkan bahwa semua ini terjadi agar terpenuhi yang disampaikan Yes 8:23-9:1, yakni bangsa-bangsa yang diam di wilayah kegelapan kini telah melihat terang yang besar. Negeri-negeri dan orang-orang yang dulu biasanya dianggap tidak masuk hitungan kini telah memperoleh terang. Dan terang itu ialah kedatangan Yesus yang di antara mereka.

Boleh jadi gagasan telah terbit terang – habis gelap terbitlah terang – terasa biasa-biasa saja. Tapi bagi orang Yahudi, yang menjadi pendengar utama Injil Matius, terang yang terbit dan dapat dialami itu mengingatkan pada perkara-perkara yang lebih dalam. Pertama-tama tentu saja penciptaan terang yang membatasi ruang gerak kegelapan. Injil Yohanes memakai gagasan ini untuk menjelaskan kedatangan Yesus. Tapi ada pula gagasan lain yang amat kaya, yaitu yang tersirat dalam rumus berkat imam Harun seperti didapati dalam Bil 6:24-26. Dimohonkan agar kehidupan ini menjadi teberkati dan dijagai Tuhan (Bil 6:24), agar orang mengalami sinar wajah Tuhan dan merasa disayang olehNya (Bil 6:25), merasa dipandangi dan mendapat kedamaian dariNya (Bil 6:26). Wajah Tuhan yang bersinar itu membuat pengalaman kegelapan tersapu. Tuhan tak pernah berwajah gelap. Ia memang bisa memalingkan wajahnya dari manusia. Dan bila ini terjadi maka manusia akan menjadi mangsa kekuatan-kekuatan gelap. Bahkan  akan dirundung maut. Jadi dipandangi Tuhan dengan sinar wajahNya itulah kedamaian dan keselamatan. Gagasan mengenai terang ini amat membantu menjelaskan mengapa Matius justru memilih ayat Yesaya yang menegaskan bahwa bagi bangsa-bangsa telah terbit terang. Dan sinar wajah Tuhan sendiri yang menyayangi manusia, yang memandanginya terus dan memberi kedamaian itu ialah Yesus yang kini mulai bekerja. Ia juga seperti ciptaan pertama yang menerangi jagat mengusir kegelapan.

TANGGAPAN YANG SEPADAN

Menurut Mat 4:17 Yesus sendiri menyerukan, “Bertobatlah…!” Ada ajakan untuk meninjau kembali cara kerja dan pandangan hidup yang nyata-nyata dijalani. Kalau bener-bener memberi rasa sreg, ya terus, tapi kalau tidak….? Lha, inilah yang dimaksud seruan itu. Jadi seruan itu bukan untuk menumbuhkan rasa kapok karena dihajar, melainkan dimaksud untuk membuka pikiran dan hati orang. Yang ditawarkan di sini ialah “Kerajaan Surga” yang sudah dekat, yakni terang yang datang dari atas sana yang kini sudah ada di sini. Praktisnya, orang diajak melihat kehidupan ini dalam terang sinar wajah Tuhan yang telah dipalingkan kepada manusia dalam diri Yesus. Termasuk melihat kehidupan yang masih penuh luka. Karya Yesus menyembuhkan orang, mengusir roh jahat, menghibur orang yang kena susah, mengajarkan jalan kebenaran akan menunjukkan bahwa manusia tidak dibiarkan sendirian.

Dalam petikan Injil ini juga diceritakan Yesus memilih murid -murid sebagai rekan sekerja. Simon Petrus dan Andreas dipanggil ketika mereka tengah menangani pekerjaan mereka menjala ikan. Mereka segera meninggalkan jala mereka untuk mengikuti Yesus. Juga Yakobus dan Yohanes meninggalkan perahu serta ayah mereka – pemilik perusahaan ikan yang sukses tadi. Orang-orang ini melihat sinar wajah Tuhan yang memandangi mereka dan tidak ingin kehilangan lagi.

Mereka yang dipanggil itu akan dijadikan penjala manusia (Mat 4:19). Sering diartikan mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Seperti mendulang lubuk misi! Tafsiran seperti itu tidak klop, baik dulu maupun sekarang, bahkan bisa memerosotkan panggilan rasuli. Luk 5:10 menjelaskan “penjala manusia” sebagai “anthropous (ese) zogron”, artinya memegang manusia untuk membawa ke kehidupan. Tanggung jawab rasuli bukan menangkapi, tetapi mendukung, menuntun, memelihara, menguatkan agar orang bisa hidup terus, dan menemukan jalan mereka.

Murid-murid Yesus yang pertama itu berasal dari kalangan yang cukup berada serta cukup terpandang di masyarakat. Mereka bisa membantu orang yang berkekurangan. Kawan kita Luc mengolah perspektif ini lebih jauh, lihat misalnya Kis 2:44-45; 5:34-35. Itulah cara Luc mengatakan agar sebanyak-banyaknya orang dapat menikmati kesejahteraan yang memang dicurahkan dari atas sana. Dan Matt juga tahu ini. Murid-murid yang pintar mengelola ikan itu kini dipanggil menjadi pengelola terang bagi manusia – bukan mengelola manusia demi terang.

Teriring salam,
A. Gianto

0 comments:

Post a Comment